Wednesday, December 20, 2006

VJ # 4/XII/2006 : "Kebahagiaan dan Agama"

Bagian I (Opening)
Beberapa waktu belakangan ini ada suatu term yang amat menggoda gue untuk lebih mengetahui dan memperdalam maknanya. Suatu istilah, yang sepertinya, merupakan tujuan akhir dari seluruh umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Suatu term yang seperti hantu. Banyak orang yang membicarakannya, namun hanya sebagian kecil dapat (atau pernah) merasakannya. Term ini begitu abstrak dan relatif wujudnya, namun karena efeknya yang begitu dahsyat, maka tidak sedikit manusia yang tidak segan akan melakukan apapun (apapun!) untuk mendapatkannya dengan cara mereka masing-masing.
Sebuah term yang disebut KEBAHAGIAAN
(Dalam psikologi, ilmu yang gue dalamin, seorang tokoh yang bernama Bradburn (dalam Ryff, 1989) menyamakan kebahagiaan dengan istilah psychological well-being)

Bagian II (Kebahagiaan)
Seperti disebutkan di atas, bahwa wujud dari kebahagiaan ini begitu abstrak dan relatif. Abstrak karena kita tidak bisa melihat (kasat mata) wujud dari kebahagiaan tersebut. Hal yang dapat kita lihat adalah efek dari kebahagiaan tersebut. Relatif karena kebahagiaan menurut satu orang, belum tentu kebahagiaan menurut orang yang lain. Selain itu, kerelativan juga muncul dalam usaha untuk meraihnya. Untuk dapat mencapai kebahagiaan tidak akan sama orang per orang. Banyak teman bisa berarti kebahagiaan bagi beberapa orang, namun tidak cukup untuk sebagian orang lainnya. Berkeluarga adalah suatu hal yang membahagiakan bagi sebagian orang, namun dianggap tidak penting bagi pengusung hidup single. Mempunyai jabatan tinggi, baik di institusi maupun di masyarakat, dapat melahirkan kebahagiaan bagi mereka yang menikmatinya, namun mendatangkan siksaan bagi yang tidak. Semua ini dapat terjadi karena di pikiran masing-masing individu telah terbentuk “arti” dari kebahagiaan bagi diri sendiri! (dipengaruhi oleh lingkungan, pola asuh orang tua, pendidikan, dsb). Walaupun demikian, ada satu hal yang (mungkin) menjadi pilihan pertama sebagian besar umat manusia ketika mereka diminta untuk “mencari” kebahagiaan. Sesuatu yang (sekali lagi, mungkin) menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan bagi mereka yang mempercayainya. Sesuatu, yang mungkin, bahkan lebih abstrak daripada kebahagiaan itu sendiri. Sesuatu yang kita sebut agama.

Bagian III (Agama)
Paloutzian (1996) mengatakan bahwa apabila kita berbicara mengenai agama, maka kita akan menemukan beragam pengertian. Keragaman pengertian tersebut terjadi karena tergantung dari sudut pandang, pendekatan, atau bidang ilmu yang digunakan oleh pemberi pengertian. Bahkan Yinger (dalam Paloutzian, 1996) mengatakan bahwa suatu pengertian agama hanya dapat memberi kepuasan bagi pemberi pengertian itu sendiri. Oleh karena itu, Paloutzian (1996), mengutip Spilka, Hood, dan Gorsuch, mengatakan bahwa untuk tujuan penelitian psikologi maka tidak akan banyak manfaat apabila kita hanya terpaku pada suatu definisi agama yang kaku. Agama harus dipahami sebagai variabel multidimensi. Salah satu ahli yang memahami agama sebagai variabel multidimensi adalah Glock (dalam Paloutzian, 1996). Ia memperkenalkan suatu konsep yang disebut komitmen religius, yaitu penjelasan cara dan alasan seseorang dalam menjalankan agamanya, serta memberikan gambaran mengenai keterikatan seseorang terhadap agamanya.

Bagian IV (Hubungan Agama dan Kebahagiaan)
Beberapa penelitian yang gue temukan membuktikan bahwa komitmen religius mempunyai hubungan dengan psychological well-being. Salah satunya yang dilakukan oleh Bergin, Sttinchfield, Gaskin, Masters dan Sullivan, 1988; Brown dan Garry, 1985; Linton, Levine, Kuechenmeister dan White, 1978 (dalam Shams & Jackson, 1993) yang menyatakan bahwa ada suatu bukti bahwa kekuatan komitmen religius dan psychological well-being mempunyai hubungan yang positif. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Shams dan Jackson (1993) yang menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai komitmen religius maka semakin baik pula psychological well-being seseorang. Hasil ini dijelaskan oleh Shams dan Jackson (1993) merujuk pada hasil penelitian McCrae dan Costa (1986) yang menunjukkan bahwa pengamalan keyakinan agama secara signifikan dapat mengurangi gejala afektif yang negatif dan merupakan cara yang paling efektif untuk mengatasi kesulitan hidup. Selain itu, sistem kepercayaan dan komitmen religius juga dapat membantu seseorang untuk memanipulasi lingkungan yang mengancam dalam satu cara tertentu sehingga individu dapat mengambil tindakan yang positif untuk mengatasinya (Shams & Jackson, 1993). Pada akhirnya hal tersebut dapat mendorong seseorang untuk mempunyai psychological well-being yang baik. Disebutkan oleh Ryff (1989) individu dengan psychological well-being yang baik akan memiliki kemampuan untuk memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi fisik dirinya. Dengan kata lain, ia mempunyai kemampuan dalam menghadapi kejadian-kejadian di luar dirinya.
Hal lain yang mempengaruhi psychological well-being seseorang adalah tingkat menjalankan ritual agama seseorang, yang dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Hepworth, 1980; Kilpatrick dan Trew, 1985 (dalam Shams & Jackson, 1993) yang menunjukkan hubungan yang konsisten antara psychological well-being dengan menjalankan ritual pada masyarakat pemeluk agama Islam di negara Inggris. Semakin baik ritual maka semakin baik pula psychological well-being yang dirasakan. Tidak hanya sekedar menjalankan ritual, namun yang lebih penting adalah nilai tujuan seseorang yang ingin dicapai dengan menjalankan ritual tersebut (Shams & Jackson, 1993). Penelitian lain juga membuktikan bahwa komitmen religius mempunyai hubungan dengan salah satu dimensi psychological well-being yaitu hubungan positif dengan orang lain. Semakin baik komitmen religius seseorang maka semakin baik pula tingkat hubungan dengan lingkungannya karena dengan berbagi aktivitas keagamaan maka dapat meningkatkan rasa solidaritas kelompok dan memperkuat ikatan kekeluargaan (Lovinger, 1984; Spero, 1985, dalam Shams & Jackson, 1993).

Bagian Akhir (Penutup)
Bagi para pembaca yang awam dengan istilah-istilah psikologi (sehingga malas membaca postingan gue ini), gue mohon maaf yang sebesar-besarnya. Oleh karena psikologi adalah ilmu yang gue dalami, maka gue selalu berusaha untuk menggunakannya dalam memandang suatu masalah yang menarik diri gue. Dalam postingan ini, gampangnya, gue berusaha untuk memberikan alternatif kepada para pembaca yang sedang berusaha untuk menemukan arti dan cara mencapai kebahagiaan. Hal yang dapat disimpulkan dari pendapat-pendapat gue di atas adalah bahwasanya kebahagiaan adalah suatu konsep yang amat relatif. Bahagia bagi satu orang, belum tentu dapat dirasakan oleh orang lain. Cara pencapaiaannya pun demikian. Tidak ada satu cara yang pasti ampuh untuk semua orang!. Walaupun demikian, gue hadir disini dengan satu alternatif (didukung dengan data dan fakta hasil penelitian) bahwa dengan agama dan segala hal yang melengkapinya (percaya ada Tuhan, Merasakan ada Tuhan, Menjalankan ritualnya, dsb) dapat menjadi alternatif (utama?) bagi para pembaca yang budiman untuk pencapaian kebahagiaan. Tidak setuju dengan gue tidak masalah karena sepeti yang gue bilang, ini hanya alternatif. Namun kalo gue boleh kasih saran, jangan sampai lo mencari kebahagiaan dengan hal-hal yang dapat merusak diri lo sendiri dan orang-orang yang lo sayangin (free sex, drugs, stealing, etc!)....

Wassalam,

Arya Verdi R.

2 comments:

yuri said...

settt,...nyari agama kok malah ketemu elo si ver??!!!!capek deh

olitalia said...

halo verdi, tulisannya bagus...bibilgraphy nya ada nggak?kebetulan gue juga lagi nulis ttg pwb dan agama...:)