Tuesday, June 12, 2007

VJ # 6/VI/2007 : "PSIKOLOGI HUMANISTIK" (MY FAVOURITE)

I. Definisi
Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis (Misiak dan Sexton, 2005). Situs www.geocities.com/masterptvpsikologi menyebutkan bahwa psikologi humanistik berdasarkan kepada keyakinan bahwa nilai-nilai etika merupakan daya psikologi yang kuat dan ia merupakan penentu asas kelakuan manusia. Keyakinan ini membawa kepada usaha meningkatkan kualitas manusia seperti pilihan, kreativitas, interaksi fisik, mental dan jiwa, dan keperluan untuk menjadi lebih bebas. Situs yang sama menyebutkan bahwa psikologi humanistik juga didefinisikan sebagai sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan kepada berbagai nilai, sifat, dan tindak tanduk yang dipercayai terbaik bagi manusia.
Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu, psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia. Kedua, ia menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia. Ketiga, ia menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi. Pokok persoalan dari psikologi humanistik adalah pengalaman subjektif manusia, keunikannya yang membedakan dari hewan-hewan, sedangkan area-area minat dan penelitian yang utama dari psikologi humanistik adalah kepribadian yang normal dan sehat, motivasi, kreativitas, kemungkinan-kemungkinan manusia untuk tumbuh dan bagaimana bisa mencapainya, serta nilai-nilai manusia Dalam metode-metode studinya, psikologi humanistik menggunakan berbagai metode mencakup wawancara, sejarah hidup, sastra, dan produk-produk kreatif lainnya. (Misiak dan Sexton, 2005).

II. Ciri-ciri dan Tujuan Psikologi Humanistik
Sebagai suatu paradigma, psikologi humanistik mempunyai ciri-ciri tertentu. Empat ciri psikologi yang berorientasi humanistik sebagai berikut : (Misiak dan Sexton, 2005)
Memusatkan perhatian pada person yang mengalami dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena dalam mempelajari manusia
Menekankan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti memilih, kreativitas, menilai, dan realisasi diri, sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistik dan reduksionistik
Menyandarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan serta menentang penekanan yang berlebihan pada objektivitas yang mengorbankan signifikansi.
Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu. Memang individu sebagaimana dia menemukan dirinya sendiri serta dalam hubungannya dengan individu-individu lain dan dengan kelompok-kelompok sosial.
Sedangkan Charlotte Buhler—pemimpin internasional dan juru bicara senior psikologi humanistik—menekankan ciri-ciri psikologi humanistik berikut ini sebagai hal-hal yang mendasar, yaitu: (dalam Misiak dan Sexton, 2005)
Mencoba menemukan jalan masuk ke arah studi dan pemahaman individu sebagai keseluruhan.
Berhubungan erat dengan eksistensialisme yang menjadi landasan filosofisnya dan terutama dengan pengalaman intensionalitas sebagai ”inti diri dan motivasi individu”.
Konsep tentang manusia yang paling sentral adalah kreativitas.

III. Konseling dan Terapi
Psikologi humanistik meliputi beberapa pendekatan untuk konseling dan psikoterapi. Pada pendekatan-pendekatan awal ditemukan teori perkembangan dari Abraham Maslow, yang menekankan pada hirarki kebutuhan dan motivasi, psikologi eksistensial dari Rollo May yang mempelajari pilihan-pilihan manusia dan aspek tragis dari keksistensian manusia, dan terapi person-centered atau client-centered dari Carl Rogers, yang memusatkan seputar kemampuan klien untuk mengarahkan diri sendiri (self-direction) dan memahami perkembangan diri sendiri. Pendekatan-pendekatan lain dalam konseling dan terapi psikologi humanistik adalah Gestalt therapy, humanistic psychotherapy, depth therapy, holistic health, encounter groups, sensitivity training, marital and family therapies, body work, dan the existential psychotherapy dari Medard Boss. Teori humanisitk juga mempunyai pengaruh besar pada bentuk lain dari terapi yang populer, seperti Harvey Jackins' Re-evaluation Counselling dan studi dari Carl Rogers. Seperti yang disebutkan oleh Clay (dalam, http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology) psikologi humanistik cenderung untuk melihat melebihi model medikal dari psikologi dengan tujuan membuka pandangan non-patologis dari seseorang. Kunci dari pendekatan ini adalah pertemuan antara terapis dan klien dan adanya kemungkinan untuk berdialog. Hal ini seringkali berimplikasi terapis menyingkirkan aspek patologis dan lebih menekankan pada aspek sehat dari seseorang. Tujuan dari kebanyakan terapi humanistik adalah untuk membantu klien mendekati perasaan yang lebih kuat dan lebih sehat terhadap diri sendiri, yang biasa disebut self-actualization (Aanstoos, Serlin & Greening, 2000; Clay, dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology). Semua ini adalah bagian dari motivasi psikolgi humanistik untuk menjadi ilmu dari pengalaman manusia, yang memfokuskan pada pengalaman hidup nyata dari seseorang (Aanstoos, Serlin & Greening, dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology).

IV. Evaluasi Psikologi Humanistik
Psikologi Humanistik, sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi, telah diberi berbagai keterangan baik, seperti gerakan yang kuat dan bersemangat, suatu gelombang masa depan, dan lain sebagainya. Walaupun demikian, layaknya kedua aliran lain dalam psikologi yaitu behaviorisme dan psikoanalisis, psikologi humanistik pun tidak lepas dari kritkan dan evaluasi. Beberapa diantaranya adalah :
Misiak dan Sexton (2005) menyebutkan bahwa sejumlah kritikus memandang psikologi humanistik sebagai mode, slogan, atau teriakan bersama, ketimbang suatu kekuatan yang nyata. Mereka juga berpendapat bahwa psikologi humanistik adalah suatu gerakan “ngawur” yang lemah karena tersusun dari jalinan yang terlalu banyak, terlalu berjauhan dan kadang-kaang berlawanan, sehingga tidak sanggup menghasilkan tindakan bersama dan pengaruh yang lama.

Sejumlah kritikus lain juga mempesoalkan masalah metodologi yang digunakan oleh psikologi humanistik. Mereka tidak yakin jika psikologi humanistik memiliki metodologi-perangkat, teknik-teknik, dan prosedur-prosedur yang memadai untuk menyelidiki masalah-masalah yang seharusnya diselidiki di atas basis empiris.

Kritikan mengenai psikologi humanistik juga datang dari Isaac Prilleltensky pada tahun 1992, yang berpendapat bahwa psikologi humanistik- dengan kurang hati-hati- mengafirmasi status quo dari sosial dan politik, dan sebab itu telah tetap diam terhadap perubahan sosial. Lebih jauh, dalam review yang dilakukan Seligman & Csiksezentmihalyi (dalam www.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology) pada pendekatan lain dari psikologi positif, mencatat bahwa perwujudan awal dari psikologi humanistik kekurangan penekanan pada dari dasar empirik, dan beberapa arahan telah mendorong self-centeredness. Walaupun demikian, menurut pemikir humanistik, psikologi humanistik jangan dipahami mempromosikan ide seperti narsisisme, egosime, atau selfishness (Bohart & Greening, 2001, dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology). Asosiasi humanisitk optimis bahwa pandangan dunia telah salah mengerti mengenai teori humanistik. Dalam respon mereka terhadap Seligman & Csikszentmihalyi, Bohart & Greening (dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology) mencatat bahwa seiring dengan self-actualization dan individual fulfillment, psikologi humanistik juga telah mempublikasikan karya ilmiah mengenai isu dan topik sosial, seperti promosi perdamaian internasional, kesadaran akan holocaust, pengurangan kekerasan, dan promosi akan kesejahteraan sosial dan keadailan untuk semua.

Psikologi humanistik juga dikritik karena teori-teorinya dianggap mustahil untuk disalahkan atau disangkal (Popper, 1969, dalam dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology) dan kekurangan nilai prediktif, dan oleh karena itu tidak bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan. Usaha dari para ahli psikologi humanistik dan psikologi positif untuk menjelaskan tingkah laku manusia seringkali berarti bahwa teori-teori tersebut tidak dapat dibuktikan salah, namun bukan berarti pula bahwa teori-teori tersebut benar adanya. Sebagai contoh, teori psikologi Adler dapat menjelaskan hampir semua tingkah laku sebagai tanda bahwa seseorang telah mengatasi perasaan inferior mereka. Sebaliknya, dengan tingkah laku yang sama juga dapat berlaku sebagai tanda bahwa seorang individu gagal mengatasi perasaan inferior. Teori tersebut sama saja mengatakan “antara akan hujan atau tidak hujan”, Sebuah teori ilmu pengetahuan yang baik seharusnya dapat disangkal dan mempunyai kekuatan untuk memprediksi (Chalmers, 1999, dalam dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology); oleh karena itu, psikologi humanistik bukanlah sebuah ilmu pengetahuan.

REFERENSI

Naisaban, Ladislaus. (2002). Para Psikolog Terkemuka Dunia : Riwayat Hidup, Pokok
Pikiran, dan Karya. . Jakarta: PT Grasindo.

Misiak, Henryk & Sexton, Virginia staudt. (2005). Psikologi Fenomenologi, Eksistensial,
dan Humanistik. Bandung: Refika Aditama

www.e-psikologi.com/lain-lain/tokoh.htm

http://www.e-psikologi.com/lain-lain/tokoh.htm#tigabelas

http://facultyweb.cortland.edu/~andersmd/maslow/explain.html

http://www.geocities.com/masterptvpsikologi/psikologihumanistik.pdf

http://www.psikologiums.net/modules.php?name=News&file=article&sid=27

www.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology

4 comments:

Me as Drama Queen said...

Hi hi, maaf ya mas, saya lagi ingin tanya-tanya masalah humanistik dan mekanistik neh. Semoga bisa kejawab, soalnya saya ada tugas mata kuliah Manajemen SDM di kampus. Kira-kira kalau dihubungkan pada masalah kampus atau sekolah bisa dijelaskan apanya ya?? Saya orang teknik soalnya, jadi rada gak ngeh. Semoga bisa ngebantu. Thank u.

Anonymous said...

mas...
blh nanya kan
q udh ngrm jg lwt YM
tp tktnya g kebaca
apa sih psikoanalisis,humanistik,behaviour,

g ngerti kak

beri detailnya n artikel dari peristiwa
bsa kan kak thx b4

rasarose said...

mas td saya udah add ym nya.mau nannya nannya tentang pendekatan humanistik,psikoanalisis,dll pada tayangan tv.buat tugas kuliah,makasih sblmnya.

delvin said...

malam..saya mau nanya ..kalo saya mengambil teori humanis abraham maslow untuk skripsi saya tentang perjuangan hidup manusia..yang kehilangan semangat hidup..bisa ga ya?