Wednesday, May 14, 2008

VJ#31/V/2008 : Social Learning Theory (Bandura)


written by : member of KLD

Teori Belajar Sosial (Social Learning) oleh Bandura menekankan bahwa kondisi lingkungan dapat memberikan dan memelihara respon-respon tertentu pada diri seseorang. Asumsi dasar dari teori ini yaitu sebagian besar tingkah laku individu diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu – individu lain yang menjadi model.

Bandura menyatakan bahwa orang belajar banyak perilaku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut.

Proses belajar semacam ini disebut "observational learning" atau pembelajaran melalui pengamatan. Selama jalannya Observational Learning, seseorang mencoba melakukan tingkah laku yang dilihatnya dan reinforcement/ punishment berfungsi sebagai sumber informasi bagi seseorang mengenai tingkah laku mereka.

Teori belajar sosial ini menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang berkembang melalui proses pengamatan, di mana orang belajar melalui observasi atau pengamatan terhadap perilaku orang lain terutama pemimpin atau orang yang dianggap mempunyai nilai lebih dari orang lainnya. Istilah yang terkenal dalam teori belajar sosial adalah modeling (peniruan).

Modeling lebih dari sekedar peniruan atau mengulangi perilaku model tetapi modeling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif. Modelling dilakukan melalui empat proses yaitu perhatian, representasi, peniruan tingkah laku, dan motivasi dan penguatan. Perhatian dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan orang yang diamati (model), sifat dari model tersebut, dan arti penting tingkah laku yang diamati. Representasi berarti tingkah laku yang akan ditiru harus disimbolisasikan dalam ingatan. Dalam peniruan tingkah laku, pengamat harus mempunyai kemampuan untuk menirukan perilaku dari model yang diamati. Modeling ini akan efektif jika orang yang mengamati mempunyai motivasi yang tinggi untuk meniru tokoh yang diamatinya.

Satu konsep penting yang dikemukakan Bandura adalah reciprocal determinism, yaitu seseorang akan bertingkah laku dalam suatu situasi yang ia pilih secara aktif. Dalam menganalisis perilaku seseorang, ada tiga komponen yang harus ditelaah yaitu individu itu sendiri (P: person), lingkungan (E: environment), serta perilaku si inidividu tersebut (B: behavior). Individu akan memunculkan satu bentuk perilaku yang sama meskipun lingkungannya serupa, namun individu akan bertindak setelah ada proses kognisi atau penilaian terhadap lingkungan sebagai stimulus yang akan ditindaklanjuti. Bandura menyatakan bahwa kognisi adalah sebagai tingkah laku perantara dimana persepsi diri kita mempengaruhi tingkah laku.

Self efficacy
Ini adalah persepsi seseorang mengenai kemampuannya didalam menghadapi suatu situasi. 2 komponen dalam Self efficacy adalah:

1. Outcome expectations : perkiraan individu bahwa suatu outcome tertentu akan muncul dan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan

2. Efficacy expectations : beliefs bahwa ia bisa melakukannya atau tidak.
Ditekankan bahwa self efficacy sangat berpengaruh dalam tingkah laku seseorang. Segala tingkah laku, bisa tingkah laku dalam bekerja, akademis, rekreasi, sosial dipengaruhi oleh self efficacy.
Expectancy adalah variabel kognitif dalam hubungan antara stimulus dan respon. Outcome expectancy adalah antisipasi dari hubungan yang sistematik antara kejadian-kejadian atau objek-objek dalam suatu situasi. Bentuknya adalah “jika-maka” antara perilaku dan hasilnya. Gagalnya suatu peristiwa mengikuti bentuk “jika-maka” yang ada dalam pola pikir individu, maka jika harapan dari individu terlalu tinggi dan tidak dapat tercapai, individu tersebut akan lebih mudah mengalami gangguan karena ketidaknyamanan yang ia alami.

Self Regulation
Self regulation adalah kemampuan individu untuk mengatur perilakunya sendiri dengan internal standard dan penilaian untuk dirinya. Konsep ini menjelaskan mengapa manusia bisa mempertahankan perilakunya walaupun tidak adanya rewards yang berasal dari lingkungan eksternal. Konsep ini tidak dapat berjalan tanpa adanya internal standards seseorang.
Internal standards adalah pemikiran yang berasal dari pengaruh modelling sebelumnya dan juga berbagai reinforcement yang lalu. Dengan adanya pemaknaan terhadap fenomena tertentu yang menurutnya baik atau bernilai, maka nilai-nilai tersebut menjadi patokan nilai internal individu yang bersangkutan. Semakin tinggi internal standard seseorang, semakin besar harapannya untuk mencapai nilai tersebut dan semakin besar pula kemungkinan individu tersebut mengalami gangguan-gangguan.

6 comments:

Sari said...

wah, makasih banyak buat tulisan ttg SLT-nya..
mau tanya klo SLT di hubungin sama pengajaran di sekolah dasar tuh gimana ya?
kira2 kerangka teorinya jadi gimana ya... thx bgt loh...

-Verdi- said...

Inti dari SLT adalah bahwa pada dasarnya manusia belajar dari lingkungan, tepatnya dari hasil ovbservasi berbagai perilaku yang terjadi lingkungan..dari hasil observasi, apabila dirasa cukup memberikan reward pada dirinya, maka ia akan mengikuti (terbentuk) perilaku yang telah diamati..hal yang terpenting disini adalah adanya modelling yang baik..apabila kita aplikasikan pada pengajaran sekolah dasar adalah pentingnya tokoh2 otoritas untuk dapat menjadi model yang baik bagai anak2 didiknya (dalam hal ini menunjukkan perilaku yang baik)..bisa juga dengan mengundang orang2 yang pantas untuk dijadikan role model (sesuai bidang masing2) untuk hadir ke ruang kelas..smoga membantu..

Wassalam,

Arya Verdi R.

agun said...

Makasih y buat tulisannya,jd agak2 ngerti tentang SLT. Klo penerapan teori SLT contohnya kayak gmn ya?
Makasih...

Fifi said...

teori SLT juga bisa diterapkan pada media massa, proses pembelajaran penonton/khalayak lewat apa yang ia lihat/dengar/baca dari media massa. iya kan?

ADEGEDE said...

wah,,jdi rada2 ngerti nih,,padahal blom baca bukunya,,bsok presentasi SLT,,mudah2an lancar...kayanya klo diliat dari teorinya,,contohnya bisa banyak bgt,,karena hanya pengulangan sikap,,nah klo itu baik,,akan berubah kpd perilaku...bnr ga ya?
thx anyway buat mas verdi

ADEGEDE said...

wah rada2 ngerti nih,,padahal blom baca bukunya,,bsok presentasi SLT,,mudah2an lancar...klo dilihat dri teorinya,,contohnya akan banyak bgt kayanya,,karena hanya pengulangan sikap,,dan jika baik,,itu akan menjadi perilaku,,bener ga ya?
thx mas verdi